• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Rupiah Melambung Ke Jaman 1998: 5 Ekonom Ungkap Penyebabnya!

img

Kabarterkini.my.id Selamat datang di blog saya yang penuh informasi terkini. Dalam Opini Ini aku ingin membagikan pengetahuan seputar Ekonomi, Sejarah Keuangan, Analisis Pasar, Krisis Moneter, Kebijakan Fiskal. Pembahasan Mengenai Ekonomi, Sejarah Keuangan, Analisis Pasar, Krisis Moneter, Kebijakan Fiskal Rupiah Melambung Ke Jaman 1998 5 Ekonom Ungkap Penyebabnya Jangan berhenti di tengah lanjutkan membaca sampai habis.

Pelemahan Rupiah Menjelang Kuartal Kedua: Pandangan Ekonom

Kepala Ekonom Bank BCA, David Sumual, mengungkapkan bahwa terkendalinya nilai tukar rupiah saat ini berhubungan erat dengan meningkatnya permintaan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. Hal ini terlihat jelas menjelang masuknya kuartal kedua tahun ini. Permintaan untuk dolar AS semakin kuat dipicu oleh kewajiban pembayaran utang dan dividen, serta adanya aliran uang yang keluar dari pasar saham, ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia pada Selasa, 25 Maret 2025.

Potensi Overshooting dan Dampaknya

Sebagai tambahan, Fakhrul memprediksi bahwa nilai tukar rupiah dapat mengalami overshooting menuju level 16.800. Meskipun demikian, ia menilai bahwa situasi ini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap perekonomian domestik. Di sisi lain, Ekonom dari Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, menegaskan bahwa rupiah tertekan oleh berbagai faktor, terutama menjelang libur panjang dan akhir kuartal.

Kekhawatiran Perang Dagang

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, juga menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah tidak terlepas dari kekhawatiran berlanjutnya ketegangan dalam perang dagang di pekan mendatang. Tindakan ini biasanya berkaitan dengan perubahan-perubahan dalam pertumbuhan ekonomi global, yang belum tercermin dalam perekonomian kita, tambahnya.

Fakhrul melanjutkan bahwa kondisi ini merupakan wake-up call bagi negara, bahwa Indonesia tidak kebal terhadap dampak perlambatan ekonomi global. Komunikasi dan kebijakan dari pemerintah yang tepat sangatlah dibutuhkan dalam situasi ini, ujarnya menambahkan.

Perubahan Harga Komoditas

Selain itu, perubahan dalam kebijakan tarif yang diusung oleh Donald Trump turut menambah ketidakpastian di pasar global. Josua juga menyoroti bahwa depresiasi nilai tukar rupiah dapat dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas ekspor utama Indonesia, seperti CPO, batu bara, dan nikel dalam seminggu terakhir.

Dalam konteks ekonomi, istilah overshooting merujuk pada keadaan di mana nilai tukar mata uang bergerak lebih cepat daripada perubahan fundamental dari ekonomi yang bersangkutan. Di Indonesia, dengan prediksi pelebaran defisit neraca berjalan di tengah melemahnya prospek ekspor global, fenomena overshooting ini bisa dimaklumi, tambahnya lagi.

Prediksi Depresiasi Nilai Tukar

Josua mengungkapkan bahwa investor saat ini cenderung melakukan pembelian dolar AS sebagai langkah antisipasi menjelang libur panjang, yang berpotensi meningkatkan proyeksi depresiasi nilai tukar rupiah. Dolar menguat karena faktor-faktor eksternal yang memberi tekanan pada pergerakan rupiah saat ini, ujarnya.

Berdasarkan pengamatan Fakhrul Fulvian dari Trimegah Sekuritas Indonesia, kondisi pelemahan rupiah ini dapat dikategorikan sebagai overshooting. Dalam hal ini, pelemahan nilai mata uang dalam waktu singkat dapat berfungsi sebagai bantalan bagi perekonomian untuk mengatasi berbagai guncangan yang mungkin terjadi.

Kondisi Pasar Saham dan Obligasi

Kekhawatiran tentang kesehatan fiskal dan kemungkinan perlambatan ekonomi mempengaruhi kondisi pasar saham dan obligasi. Di tengah semua ini, dolar menguat, didasarkan pada sikap hati-hati Presiden AS dalam menerapkan tarif perdagangan pada tanggal 2 April 2025. Hampir seluruh ekonom sepakat bahwa faktor eksternal menjadi penentu dalam pergerakan rupiah kali ini.

Sementara itu, terdapat juga indikasi bahwa Bank Indonesia mengurangi intervensinya dalam pasar dibandingkan minggu sebelumnya, yang dapat berdampak lebih lanjut pada nilai tukar rupiah ke depan.

Terima kasih atas perhatian Anda terhadap rupiah melambung ke jaman 1998 5 ekonom ungkap penyebabnya dalam ekonomi, sejarah keuangan, analisis pasar, krisis moneter, kebijakan fiskal ini Saya harap Anda menikmati membaca artikel ini tetap fokus pada tujuan hidup dan jaga kesehatan spiritual. Sebarkan kebaikan dengan membagikan kepada yang membutuhkan. Terima kasih atas perhatian Anda

© Copyright 2024 - Berita Terkini
Added Successfully

Type above and press Enter to search.

Close Ads