Gempa Guncang Myanmar: Junta Militer Umumkan Gencatan Senjata, Harapan Baru di Tengah Krisis!
Kabarterkini.my.id Hai semoga harimu menyenangkan. Dalam Opini Ini aku mau membahas keunggulan Berita, Politik, Hak Asasi Manusia, Krisis Kemanusiaan, Militer, Gencatan Senjata yang banyak dicari. Penjelasan Artikel Tentang Berita, Politik, Hak Asasi Manusia, Krisis Kemanusiaan, Militer, Gencatan Senjata Gempa Guncang Myanmar Junta Militer Umumkan Gencatan Senjata Harapan Baru di Tengah Krisis Simak baik-baik setiap detailnya sampai beres.
- 1.
Dampak Gempa yang Parah
Table of Contents
Gencatan Senjata Diberlakukan di Myanmar Pasca-Gempa
Pemerintah militer Myanmar mengumumkan bahwa mereka akan memulai gencatan senjata mulai Rabu, 2 April hingga 22 April 2025. Langkah ini diambil dengan tujuan untuk memfasilitasi upaya bantuan setelah terjadinya bencana gempa bumi yang menghancurkan. Junta militer menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk mempercepat proses bantuan dan rekonstruksi, serta untuk menjaga kedamaian dan stabilitas di negara yang tengah dilanda krisis ini.
Namun, militer juga mengingatkan kepada kelompok-kelompok penentang, baik itu kelompok bersenjata pro-demokrasi maupun etnis minoritas, bahwa setiap tindakan serangan bersenjata atau sabotase yang dapat mengganggu perdamaian akan ditanggapi dengan tegas. Dalam pengumuman tersebut, pemimpin junta, Min Aung Hlaing, dijadwalkan melakukan perjalanan ke Bangkok untuk berpartisipasi dalam pertemuan puncak negara-negara Asia Selatan, termasuk Myanmar dan Thailand, di mana isu penanganan pasca-gempa akan dibahas.
Situasi Kemanusiaan yang Memprihatinkan
Aye Thi Kar, seorang kepala sekolah untuk biarawati berusia 63 tahun, mengekspresikan keprihatinannya terhadap menipisnya persediaan makanan. Dia menegaskan bahwa tempat berteduh menjadi prioritas yang lebih mendesak saat ini, bersama dengan kelambu untuk melindungi diri dari nyamuk di tengah teriknya suhu panas tropis. Saya belum pernah mengantre untuk mendapatkan makanan seperti ini sebelumnya, ungkapnya, menambahkan bahwa mereka sangat memerlukan atap dan dinding untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak.
Kritik terus datang kepada junta militer dari kelompok hak asasi manusia dan beberapa negara asing, yang menyerukan tindakan lebih lanjut terkait serangan udara yang terus berlanjut sementara negara ini berjuang memulihkan diri dari dampak gempa yang menghancurkan. Ribuan orang yang putus asa terlihat berusaha mendapatkan bantuan makanan di Sagaing, kota terdekat dengan episentrum gempa, dengan beberapa orang bahkan berlarian di tengah jalan demi mendapatkan makanan.
Dampak Gempa yang Parah
Jumlah korban tewas akibat gempa dicatat telah mencapai hampir 3.000 orang, dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. Pengumuman gencatan senjata ini datang saat para korban mendesak untuk mendapatkan lebih banyak bantuan. Relawan terlihat memberikan air, beras, minyak goreng, dan bahan kebutuhan dasar lainnya kepada penduduk yang memerlukan bantuan.
“Saya tidak bisa mengungkapkan betapa khawatirnya saya. Saya tidak tahu harus berkata apa,” kata seorang warga bernama Cho Cho Mar berusia 35 tahun, yang sedang menggendong bayinya dan menggenggam kemasan kopi instan serta obat nyamuk. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari tiga rumah di Sagaing telah runtuh, sehingga kebutuhan akan kelambu dan selimut untuk tempat tidur sangat mendesak, untuk menghindari tidur langsung di tanah.
Harapan untuk menemukan lebih banyak korban selamat semakin memudar, namun ada momen menggembirakan pada Rabu, 2 April, ketika dua orang berhasil diselamatkan dari reruntuhan sebuah hotel di ibu kota Naypyidaw. Junta militer Myanmar mengumumkan gencatan senjata sementara seiring dengan terus meningkatnya jumlah korban tewas akibat gempa bumi yang parah ini. Menurut laporan AFP, gempa bumi yang berlangsung pada Jumat, 28 Maret 2025, memiliki magnitudo 7,7 dan telah meratakan bangunan hampir di seluruh Myanmar.
keluhan penduduk mengenai kurangnya bantuan juga terus bermunculan, terutama setelah lima hari sejak terjadinya gempa. Fasilitas kesehatan yang rusak akibat bencana dan kapasitas terbatas kini kesulitan menangani jumlah pasien yang terus berdatangan. Hingga saat ini, jumlah korban tewas dilaporkan meningkat menjadi 2.886, dengan lebih dari 4.600 orang terluka dan 373 orang masih hilang.
Demikianlah gempa guncang myanmar junta militer umumkan gencatan senjata harapan baru di tengah krisis telah saya bahas secara tuntas dalam berita, politik, hak asasi manusia, krisis kemanusiaan, militer, gencatan senjata Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca selalu berinovasi dalam bisnis dan jaga kesehatan pencernaan. Silakan share ke orang-orang di sekitarmu. jangan ragu untuk membaca artikel lainnya di bawah ini.
✦ Tanya AI